Hidup sebagai Kaki Dian

72 0

Sentuhan tangan Sang Agung mencipta rupa insan dengan eloknya. Dibentuk segambar dengan Yang Menciptakan, sempurna, dan rupawan. Namun demikian, bukan berarti segalanya sama persis, setara, setaraf, dan sekelas. Perbedaanlah yang menjadikan ciptaan-Nya sebagai Mahakarya. Masing-masing dengan kelebihan dan keistimewaan yang saling melengkapi meski terdapat keterbatasan dalam pandangan diri.

Seperti halnya raga, tidak terdiri dari satu anggota saja, tetapi banyak anggota. Setiap anggota memiliki fungsi dan tanggung jawab yang berbeda dan saling bekerja sama. Apa jadinya jika dalam semua susunannya merupakan mata, di manakah pendengaran? Atau jika seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Sang Pencipta telah memberi kepada tiap-tiap anggota secara khusus, suatu tempat pada raga sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

Lembah Kerendahan Diri

Dalam semarak keagungan karya-Nya, kau terpesona memandangi segala buatan tangan-Nya. Ke mana pun kau mengindera, di sana kau temukan kehebatan setiap insan ciptaan-Nya. Ragam kecakapan yang dimiliki keturunan Adam dan Hawa berhasil melantunkan decak kagum pujian. Mulai dari kecakapan seni hingga relasi, verbal hingga numerial, skolastik hingga mekanik, abstrak hingga pelacak, dan banyak lagi yang tak terucap.

Kau keheranan menyaksikan hingga tanpa disadari, kau terperosok dalam lembah kerendahan diri. Alih-alih berusaha bangkit dan mencari jati diri, kau tetap duduk diam dalam bayang-bayang kelam sembari meratap dan mengutuki diri. Termenung menyendiri mencari jawab atas pertanyaan yang selalu datang menghampiri “apakah aku punya bakat atau keahlian?” Kau berhasrat ingin pula disanjung dan dipuji. Rebas titik air mata mengalir hingga ke relung hati. Kau merasa tak punya sesuatu yang berarti yang pantas dibanggakan dan diakui.

Karunia Kirana

Ketika tangan menyatu erat, mata tertutup rapat, Tuhan pun datang mendekat. Ia membisikan kata penuh berkat. Tiap manusia diberi karunia, disematkan selagi kau masih bakal anak. Karunia merupakan bakat yang ditanam sejak awal dengan berbagai macam kemampuan, unik, dan istimewa. Benih karunia tersebut tidak akan tumbuh, berkembang dan berbuah jika tidak diupayakan. Maka, mereka yang menang karena gigih berjuang pantas mendapat pengakuan dan penghargaan.

Tujuan karunia bukan untuk jadi utama lalu akhirnya membusungkan dada. Karunia adalah suatu bentuk kepercayaan yang diberikan Sang Pencipta kepada mereka yang telah ditentukan. Dianugerahkan untuk kehidupan yang diberkati dan memberkati agar menjadi berarti.

Namun kau tak perlu berkecil hati, Ia membentukmu sesuai maksud-Nya. Karunia tak hanya berwujud bakat luar biasa. Ada pula karunia sederhana dan terkesan biasa-biasa saja, namun bernilai guna bagi sesama.

Karunia itu terdapat dalam rupa-rupa kebaikan sebagai bakat
yang lebih berfaedah serta berharga dengan kasih sebagai akarnya.


Terkenang sebagai Berkat

Demikianlah maksud Sang Ilahi. Bukan keahlian yang perlu ditunjukkan sebagai satu-satunya karunia yang mengagumkan. Kau pun tak usah iri dengan keistimewaan orang. Hati pengertian, penyabar, penyayang, pemurah, peramah, pemberi, penolong, penghibur, pendamai, pelerai, pengasuh, dan pengasih tak serta merta dimiliki tiap orang. Semua adalah karunia khusus dan spesial bagi yang telah ditetapkan sebelum dunia dijadikan. Meskipun karunia tersebut tak membuatmu menjadi hebat bagi dunia, namun menjadi berkat bagi sesama. Tetap miliki sifat rendah hati, bukan rendah diri.

Jika kau bukan sebuah lilin yang cahayanya menjadi pusat perhatian,
teguhkanlah hatimu sebagai kaki dian.

Rela hati sebagai penopang yang aman dan wadah yang siap menadah serta melayani lelehan keluhan. Rintihan dan erangan mereka yang membutuhkan agar lilin di atasnya tetap bersinar terang. Perbuatlah dalam kesetiaan agar karunia-Nya tetap lestari hingga kau menua dan menutup mata. Hal tersebut mungkin tak membuatmu dikenal dan terkenal, tapi akan selalu dikenang dan terkenang.

Radian Kristiani

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.