Meneduhkan Panas Hati

86 0

Kenapa kau gemar sekali menyimpan bara api dalam hatimu? Kemarahan bergejolak mengisi ruang perasaanmu. Kau murka, tapi enggan mengakuinya. Kau bilang akan melupakannya, tapi justru percikan-percikan api memanas di sanubarimu. Bara itu terus menyala, tak pernah padam, hingga akhirnya sanggup jadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Tidak ada kedamaian di dalam hati yang memanas. Mau secepat apa pun kau membuangnya jauh-jauh, semua sia-sia jika bara itu tak jua kau padamkan. Hari-harimu akan dipenuhi dengan angkara dan curiga. Buat apa menyimpan dendam kalau lama-lama makin berakar menjadi kepahitan?=

Hati dan pikiranmu harus berjalan beriringan agar panas hati itu bisa kau kelola. Kau bisa teduhkan amarahmu asal kau sadari ada tombol-tombol untuk meredupkannya.


Kenali Kehadiran si Percikan Api

Kemarahan bukan melulu hadir meledak-ledak tanpa kendali. Andai kau mau lebih peka, emosi panas ini juga selalu beri pertanda. Kenali percikan api yang hadir dan ijinkan hatimu menerimanya, bukan menolaknya.

Perasaan marah bisa datang dari mana saja, entah karena perkataan atau sikap orang lain yang kurang berkenan. Akuilah kalau ada hal mengusik hatimu, terasa menyebalkan, sekaligus amat menyakitkan. Terima percikan emosi itu tanpa perlu melawannya.

“Kau tidak perlu berpayah melawan rasa marah.
Semakin erat kau berusaha menahannya, hatimu akan terasa kian sesak.”


Kendalikan sebelum Tersulut Menjadi Kemarahan

Mengakui dan menerima percikan api tak lantas membuatmu cepat-cepat menyemburkannya. Kau tak harus lekas murka, kau hanya butuh tenang dulu. Kau tak boleh biarkan tindakanmu dikendalikan oleh emosi. Angkaramu ada di kuasamu, kelolalah sebelum mencurahkan api lebih hebat.

Tahan sebentar saja bara di hatimu, tak perlu menyulutnya kian panas. Ambil napas panjang, dalam, lalu hembuskan perlahan. Rasakan tiap udara segar memenuhi rongga dadamu hingga lambat laun meredakan kemarahan.

“Kau sungguh tak butuh ucapkan serapah kala marah.
Kau hanya butuh sirami panas hatimu dengan pikiran lebih jernih.”

 

Cari Tahu Apa yang Mengusik Hatimu

Jangan fokus ke perasaan marahmu saja. Gali dan gali lagi, apa yang sebenarnya membuatmu benar-benar kesal? Bisa jadi bukan karena ucapan atau tindakan orang lain. Siapa tahu respon hatimulah yang kurang tepat menerima perlakuan tersebut.

Saat hatimu terusik, coba berbincanglah kepadanya. Telisik lagi, apakah ada hal di masa lalumu yang menjadi bayang-bayang kemarahanmu? Ataukah kau cukup mudah tersinggung hingga membikinmu sakit hati?

“Sering kali kemarahan hadir tanpa sebuah alasan.
Sia-sia saja kalau kau hanya menuruti luapan emosi
tanpa paham apa sebabnya.”

 

Renungkan dan Bertindaklah Tenang

Berteriak atau bertutur kata kasar tidak akan mampu memadamkan murka. Itu hanya membuat hatimu makin pilu dan membiru. Luka karena sakit hati akan tetap ada, menyisakan panas, dan membekas di hati selamanya.

Murnikan hati dan pikiranmu kala bergelut melawan marah. Ambil tindakan tenang untuk meresponnya tanpa perlu menimbulkan sakit lagi, baik untukmu atau pun orang lain. Hanya kelembutan nurani yang sanggup meluruhkan segala amarah dan melingkupinya dengan perasaan lebih meneduhkan.

“Panas hati bukan untuk dipendam atau diluapkan begitu saja.
Tenangkan gejolaknya, kendalikan responnya,
maka kau bisa menang atas angkaramu.”

Rasa marah boleh saja hinggap di hatimu. Kau tak akan pernah tahu dia hadir dalam rupa seperti apa. Tapi, ingat kau tetap punya kendali atasnya. Tekanlah tombol-tombol tadi agar kau sanggup merasa teduh di tengah luapan panas hatimu.

Jessica Dima

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.