Sempurna Namun Tidak Utuh

105 0

Goresan Pada Karya Yang Sempurna

“Kau adalah karya agung-Nya. Walau kau berasal dari debu,
namun kau dikaruniai napas hidup oleh Sang Agung.”

Saat kau melihat langit biru, dengan barisan awan tipis dan tebal, dapat menurunkan rintik-rintik dan deras air hujan. Saat kau memandang matahari yang terbit dan terbenam tepat waktunya. Juga langit malam dengan benda-benda penerang nan indah. Kau pun kagum akan karya agung yang teratur nan indah, tanda campur tangan Sang Agung.

Demikian juga dengan dirimu. Kau adalah karya agung-Nya. Walau kau berasal dari debu, namun kau dikaruniai napas hidup oleh Sang Agung. Kau diciptakan memiliki pikiran yang kompleks. Perasaan yang bisa menciptakan tawa, tangis, senang, serta sedih. Kau pun dititipkan ide-ide kreatif, hingga melahirkan karya-karya indah. Belum lagi keberadaan anggota-anggota tubuh yang ada bukan tanpa tujuan. Mata untuk melihat. Telinga untuk mendengar. Mulut untuk berbicara. Tangan untuk memegang. Betapa kau adalah karya indah sempurna, buatan tangan-Nya.

Namun sayangnya, di tengah semua kesempurnaan itu. Seringkali kau merasakan, ada rasa tidak utuh dalam hidupmu. Ada rasa haus, menuntut semua keinginan harus dimiliki. Selalu ada perasaan cemas dan khawatir yang mengintai, kalau-kalau keinginan dan cita-citamu tak bisa terpenuhi. Kau takut terlihat tak sempurna di hadapan orang lain. Hatimu seperti bocor dan kosong. Tanpa ada yang bisa mengisi dan memuaskannya.

Kau pun mulai kewalahan mengendalikan emosimu. Setiap rasa yang berkecamuk mulai mengganggu mentalmu, kehidupan sosialmu, bahkan pertumbuhan rohanimu. Keindahan dunia yang kau lihat dari jauh, berbanding terbalik dengan kenyataan yang kau alami. Kekecewaan dan kegagalan kerap tak bisa kau hindari. Belum lagi luka-luka hati yang bukan hanya menggores, tapi juga membekas di hati dan ingatan.


Jawaban dalam Keheningan

“Seandainya hal-hal buruk itu tidak pernah menimpa hidupmu,
mungkin selamanya kau hanya terparkir oleh rasa kekagumanmu pada-Nya,
tanpa sungguh-sungguh mencari Dia dan mengenal-Nya.”

Sampai saat di titik terendah, kau pun mulai bertanya kepada Sang Agung. Mengapa Dia mengizinkan hal-hal buruk terjadi pada dirimu? Dalam keheningan Dia menyapamu. Dia mengizinkan semua itu terjadi agar kau belajar untuk menjadi dewasa. Dia ingin kau semakin mendekat kepada-Nya. Dia ingin kau berjalan bersama-Nya. Seandainya hal-hal buruk itu tidak pernah menimpa hidupmu, mungkin selamanya kau hanya terparkir oleh rasa kekagumanmu pada-Nya, tanpa sungguh-sungguh mencari Dia dan mengenal-Nya.

Kau pun sadar bahwa semua ambisimu, membuatmu menjadi sombong. Betapa baiknya Dia kepadamu sehingga tidak membiarkanmu liar. Ia menolongmu untuk bertumbuh dewasa. Hendak merontokkan segala sesuatu dalam batinmu yang tidak berkenan, agar kau tidak terpisah dari-Nya.


Cinta Yang Sempurna

“Berlarilah ke hatinya.
Dia satu-satunya tempat kau bercerita tanpa rasa takut.
Satu-satunya tempat menuangkan perasaanmu.”

Berlarilah ke hatinya. Dia satu-satunya tempat kau bercerita tanpa rasa takut. Satu-satunya tempat menuangkan perasaanmu. Kau dapat menjadi dirimu sendiri saat berada dekat-Nya. Sang Agung sangat menyayangimu dengan seluruh keberadaan hidupmu. Itulah yang akan membuat engkau diterima dan merasa utuh.

Dan pada akhirnya, kau akan merasakan, beban berat karena ambisi untuk mendapatkan kesempurnaan di mata manusia mulai terkikis. Perjalananmu belum usai. Sang Agung tidak ingin kau berjalan sendirian. Dia memperhatikan gerak langkah hidupmu. Dia memeliharamu, meskipun terkadang pemeliharaan-Nya justru melalui situasi yang tidak kau harapkan.

Cinta-Nya yang sempurna menjadikan kau pun sempurna dan utuh.

Enda Gestiwari

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.