Surat Sang Tuan: Mencintalah di Dalam Karya-Ku

97 0

“Andai aku bisa menjadi sempurna. Sebuah khayalanku belaka. Bagaikan itik merindukan langit.” Itulah yang selalu kau pikirkan. Setiap pagi senyummu Kunanti, meski kadang kau terus saja bersikap angkuh pada-Ku. Tak sedikit pula air muka keruhmu yang kau beri pada-Ku. Lidahmu melekat pada langit-langit. Setiap hari jiwa dan ragamu bertambah rapuh. Rayap pun sanggup merongrongmu hingga menjadi serpihan debu.

Kau lebih menyukai kegelapan daripada cahaya. Terjebak dalam patriarki, terkungkung tak berdaya. Mengasingkan diri pada tembok baja tak bergeming. Mengurung diri sedemikian lama dengan kutukan. Pengurungan diri membuat hatimu terlihat kisut dan pucat. Tubuhmu menjadi hijau seperti batu kali yang dilapisi lumut. Semakin lama semakin jelas dan mengerikan kau membangun kuburmu sendiri.

Citra Diri yang Terbangun

Hidupmu setengah-setengah, hidup segan mati pun enggan. Merana kau sebut dirimu dengan bara menyala kian membara. Kau terluka tak berdaya, kalah dalam peperangan, tapi kau enggan mengakuinya pada-Ku. Meninggalkan-Ku namun diam-diam kau merindukan kebersamaan yang dulu kau rasakan dengan-Ku.

Kau sering menarik diri, menyendiri, dan enggan berkomunikasi. Kau terkurung dalam ketidakmampuan mengembangkan kehidupanmu sendiri dan secara tetap diliputi oleh perasaan malang. Sering kali kau patah hati dan merasa nista atau terhimpit karena berbeda dengan orang lain yang berada di lingkungan sekitarmu.

“Kau sering kali tak menyadari bahwa
ketika kau berbeda dengan yang lainnya,
A
ku memiliki agenda yang besar di dalam hidupmu.


Membasuh Luka

Cukupkanlah itu semua, Nak! Ijinkan-Ku membasuh lukamu. Menemanimu yang terluka hingga kau bahagia. Melukismu untuk menjadikan hidupmu menjadi lukisan hidup yang memberikan hasrat bagi orang lain yang dahaga. Angkatlah kepalamu, sendengkanlah telingamu, bukalah pandanganmu, dan lapangkan dadamu. Mari kau tengok pesan pengantar lentera. Dengarkanlah Aku bercerita melalui pena semesta. Ini Kusampaikan untuk memenangkan hatimu. Hari ini ikutlah Aku melawat semesta. Mari, melanglanglah dengan-Ku!


Pelangi Diri

“Berbungalah di manapun kau tumbuh.
Berjalan dengan-Ku memang tak mudah,
namun dapat A
ku pastikan akan selalu berakhir indah.

Apa kau memindai air meruap di bahar itu? Menurutmu, kemana sajakah mereka akan menyegarkan para dahaga? Lihatlah di pucuk sana seberkas warna-warni menghiasi tawang! Teguklah ia. Rasakanlah ia menyegarkan jiwa gersang dan melepas dahaga matamu. Kau tahu ia berasal dari bahar yang kau tengok lalu. Ia merasakan proses yang begitu menyakitkan melalui pembiasan. Sang surya membiaskan sinarnya ke dalam tirta, menikung dalam perjalanan satu medium ke medium lainnya, dan menghasilkan warna-warna menawan.

Indah bukan pelangi itu? Seperti itulah alur kehidupan setiap anak-anak-Ku. Perlu kau pahami setiap anak-Ku mempunyai rancangan hidupnya masing-masing. Apa yang bisa kau telaah darinya, Nak? Masihkah kau merasa rendah diri? Tidakkah kau sadari Aku begitu mencintai dan mengagumimu? Tak lelahkah kau bertopeng semu? Aku tahu kau merasa buruk rupa, malang, dan nista. Tetapi kaulah satu terkasih-Ku dan Aku membentukmu dalam karya maha kudus, indah tak bercela.

Percayalah pada-Ku, mimbarmu tak berakhir hanya karna kau disebut produk gagal oleh dunia. Mimbarmu baru akan benar-benar berakhir jika kau sibuk mencela dirimu sendiri. Fokuslah pada kekuatan yang Aku berikan padamu. Berkasihlah dengan dirimu selayaknya Aku mengasihimu. Mencintalah dengan dirimu selayaknya Aku mencintaimu. Percayailah dirimu selayaknya Aku mempercayaimu dengan karya-Ku di dalam hidupmu. Serahkanlah pada-Ku segala lukamu. Sandarkan hidupmu pada-Ku. Lepaskan perisaimu.

Jadikanlah Aku teman berbagi rahasiamu karena rindu tentangmu tak pernah pergi dari-Ku. Aku akan merangkulmu di saat dunia menyerangmu. Mengangkatmu dari ruang kepahitan. Membuat luka menjadi rasa. Menunggu detak jantung dan nadimu berdetak seirama bersama-Ku. Aku akan selalu menyertaimu. Yakinlah identitasmu ada di dalam-Ku. Yakinlah, hidupmu tersimpan selalu dalam kendali-Ku. Aku bekerja melaluimu.

Ruth Lana Monika

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.