Tak Perlu Buru-buru Jatuh Hati

125 1

Sebagian dari kita pernah merasakan cinta pada pandangan pertama. Kala sepasang mata saling beradu, sekonyong-konyong letupan-letupan kecil meloncat riang ke seluruh tubuh. Jantung berdetak lebih cepat hingga tak karuan rasanya. Dari mata turun ke hati. Begitu romantis, melankolis, sekaligus dramatis. Tapi, benarkah jatuh hati harus secepat itu?

Jatuh hati memang lebih banyak melibatkan afeksi daripada nalar. Kita tidak dapat menampik kehadiran cinta yang seringnya datang tiba-tiba. Namun, jatuh cinta selayaknya juga menyediakan titik temu bagi perasaan dan logika. Hati yang bergelora tidak boleh kita beri kendali terbesar dalam memutuskan pilihan cinta.

Meski terdengar klise, jatuh cinta sebenarnya tak bisa secepat dari mata turun ke hati semata. Apa yang terlihat oleh mata baiknya juga diresapi di pikiran serta hati. Hari ini kita akan belajar bahwa kita tak perlu buru-buru jatuh hati.


Jebakan Kecil Bernama “Soulmate”

Mitos tentang “soulmate” begitu diromantisasi sehingga membuat orang berangan-angan menemukan pasangan layaknya di cerita dongeng. Bertemu “soulmate” ibarat bersua dengan belahan jiwa yang dianggap hilang, melengkapi kekosongan hati yang tak sempurna.

Memercayai “soulmate” membuat kita terjebak pada imaji cinta yang salah. Tak apalah kita belum sempurna, nanti juga akan ada pasangan yang membuat kita utuh. Ibaratnya, ½ + ½ = 1. Setengah dari diri kita akan digenapi oleh kehadiran pasangan. Mari kita resapi bersama, benarkah sosok “soulmate” harus mampu melengkapi, mendewasakan, serta menggenapkan hidup kita?

Kenyataannya, kita tidak mampu mencintai seseorang dengan kondisi masih separuh. Sebuah hubungan yang sehat seharusnya adalah dua menjadi satu, bukan separuh ditambah separuh. Menjadi dewasa jelas menjadi tugas individu, bukan pasangan kita kelak.

“Jangan buru-buru jatuh hati kala keping hati belum utuh.
Pasangan bukan hadir buat menggenapi kita.
Mencintai bukanlah sekadar mencari belahan hati yang dirasa hilang.”


Penuhilah Gelas Kita Terlebih Dahulu

Bayangkan kita adalah sebuah gelas yang diisi oleh banyak bentuk cinta, bisa dari dari keluarga, teman, hingga pasangan. Jikalau semua cinta tersebut hilang, apakah seketika gelas kita menjadi kosong? Lalu, akankah gelas tersebut senantiasa kering sehingga kita terus-menerus kehausan?

Perumpamaan gelas tadi sama saja dengan hati kita. Kita berharap suatu saat nanti seseorang sanggup mengisi hati kita dengan luapan dan kedahsyatan cinta. Andai hati kita tengah kosong, kita butuh eksistensi seseorang agar buru-buru mengisinya. Tanpa kita sadari, rasa haus akan cinta menjadi jerat yang membuat kita mudah jatuh hati dalam sekejap.

Padahal, dahaga cinta kita tidak mampu dituntaskan oleh orang lain. Kala gelas kita kosong, maka kita sendirilah yang harus mengisinya. Mari kita belajar memenuhi gelas kita hingga ruang-ruang hati kita terisi dengan banyak cinta, tanpa perlu menantinya dari orang lain.

“Sudahkah kita mencintai diri sendiri
sebelum menjatuhkan hati pada orang lain?”


Jatuh Hati Tak Usah hingga Sejatuh-jatuhnya

Terlalu cepat jatuh hati dapat memerangkap kita pada cinta yang memabukkan. Mencintai seseorang dengan sepenuh hati adalah sebuah ketulusan. Namun, menjatuhkan hati hingga sejatuh-jatuhnya justru bisa membutakan.

Memberikan sebuah pengorbanan dalam cinta tentu tidak salah. Kita juga seharusnya mampu menilai dan menentukan batas buat kita sendiri. Jangan sampai kita mengorbankan diri seutuhnya, tapi tanpa sadar hati kita diam-diam juga terluka.

Sanggupkah kita memusatkan seluruh waktu, tenaga, dan perhatian hanya pada satu sosok yang kita cintai? Tentu saja jawabannya tidak. Dunia kita tidak mungkin berputar baginya semata. Kata “cukup” adalah penjaga hati terbaik buat kita.  Mari kita juga berkaca, sudah sepadankah pengorbanan hati kita buat dirinya?

“Jatuh hatilah secukupnya. Cukup mencintai, cukup menyayangi,
cukup berkorban. Tak perlu kita berikan seluruh hati kita, tanpa
menyisakan ruang untuk diri sendiri.

Jatuh hati punya waktu tersendiri, dia tak perlu datang terburu-buru. Mencintai seseorang serba kilat menjerat kita pada cinta pekat yang tak sehat. Mari pertemukan perasaan dan logika di satu titik yang tepat agar hati kita menjadi lebih teduh saat mencintai seseorang.

Jessica Dima

1 comment

  1. Suka banget sama tulisan ini. Sangat diberkati. Thank you so much. Gbu

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.